Menguak Tabir Alam Semesta Lewat Fisika
MENJELASKAN fenomena alam melalui rumus dan persamaan fisika, justru
membuat banyak orang alergi untuk mempelajarinya. Tidak berlebihan jika
sebagian besar masyarakat kita menjadi fobia terhadap fisika. Meski
interaksi fisika dan matematika itu sangat kuat, bukan berarti fisika
hanya bisa dipahami dengan penjelasan melalui sekumpulan rumus dan
persamaan fisika yang ngejelimet.
Eksplanasi fisika melalui bahasa nonteknis ternyata ampuh untuk
melunturkan fobia masyarakat terhadap ilmu tersebut. Bahkan orang-orang
yang tidak punya background fisika pun bisa memahami sejumlah konsepsi
mengenai alam semesta.
Lahirnya teori-teori fisika dari
Albert Einstein di awal abad 20, telah berjasa dalam menjawab sejumlah
rahasia alam.
Beberapa teori yang paling
populer, yaitu model Robertson, Walker, dan Friedmann menjelaskan teori
bagaimana alam semesta itu terjadi.
Teori itu mengatakan bahwa alam semesta diklasifikasikan menjadi tiga
jenis yaitu pertama alam semesta terbuka di mana alam semesta mengembang
selamanya. Jadi, alam semesta itu tak pernah mati. Kedua, alam semesta
tertutup di mana alam semesta itu hidup, lahir, dan kemudian mati.
Ketiga, alam semesta datar. Alam semesta jenis ini hidup tetapi kemudian
flat dan akhirnya mengembang sampai tak berhingga.
Dalam aplikasinya, model Robertson, Friedmann, dan Walker itu memang
mendorong orang untuk berimajinasi bahwa alam semesta itu ada awalnya.
Menurut model ini, kelahiran alam semesta itu selalu diawali dengan
dentuman besar (big bang) yang terjadi pada waktu planck, yaitu 10
pangkat minus 43 detik setelah permulaan waktu. Sebagai gambaran, jika
waktu planck dibandingkan dengan waktu 1 detik maka perbedaannya sa-ngat
besar. Satu detik jauh lebih kecil daripada waktu planck.
Alam semesta yang masih bayi tersebut memiliki temperatur yang sangat
panas yaitu 10 pangkat 32 kelvin. Untuk perbandingan 100 derajat celcius
setara dengan 373,5 kelvin. Orang yang tersiram air mendidih (100
derajat celcius), kulitnya akan langsung melepuh. Bagaimana bila orang
tersiram air panas bersuhu 10 pangkat 32 kelvin. Tampaknya, belum
mencapai suhu tersebut saja, orang akan gosong.
Selain suhu yang sangat panas, bentuk alam semesta pada waktu planck
tersebut supermini, tidak bisa dilihat secara kasat mata. Bayangkan saja
diameter bayi alam semesta hanya 10 pangkat minus 33 cm, jauh lebih
kecil dari seperibu cm. Kita butuh mikroskop, bagaimana untuk melihat
bayi alam semesta?
Bayi yang berupa titik ini kemudian berkembang. Pada saat usia bayi
tersebut mencapai 200 detik (3 jam 20 menit), temperatur alam semesta
sudah jauh menurun menjadi satu triliun kelvin. Karena terus berkembang,
bayi alam semesta yang usianya kurang dari 4 jam tersebut, ukurannya
pun membengkak menjadi 10 pangkat 20 cm. Saat umur itulah, terjadi
sintesis nukleon helium.
Bayi tersebut terus berkembang menjadi materi yang ditandai de-ngan
terbentuknya atom hidrogen. Untuk membentuk atom tersebut, butuh waktu
10 pangkat 14 detik. Saat itu temperatur alam semesta pun menurun
menjadi hanya seribu kelvin. Proses ini menyebabkan diameter alam
semesta membengkak menjadi 10 pangkat 26 cm. Setelah atom hidrogen
terbentuk, pada usia 10 pangkat 18 detik, alam semesta pun menemui
bentuknya seperti yang ada sekarang.
Di usianya tersebut, suhu turun drastis menjadi 3 kelvin atau -270,15
derajat celcius. Sedangkan ukurannya pun membesar menjadi 10 pangkat 28
cm. Ini belum merupakan akhir dari perkembangan semesta alam dan dari
titik ini, para fisikawan masih belum mengetahui ke mana arah
perkembangan semesta alam. Yang jelas, berdasarkan teori yang menyatakan
bahwa alam semesta adalah alam semesta tertutup, maka pada suatu saat
akan mati. Tidak ada yang tahu kapan itu terjadi.
Bagaimanpun, masih banyak rahasia alam yang belum terungkap. Tetapi,
setidaknya dengan kehadiran para fisikawan seperti Einstein, Bergmann,
yang meneliti fenomena alam dan kemudian merumuskannya dalam sejumlah
formula fisika telah membantu manusia mengungkap sedikit tabir yang
menutupi alam semesta kita.
Sumber : disadur dari : fisik@net
Komentar
Posting Komentar